Tampilkan postingan dengan label Kerajaan Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajaan Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Januari 2016

SEJARAH KERAJAAN ACEH



a.      Letak Kerajaan
         Kerajaan Aceh berkembang sebagai kerajaan Islam dan mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Perkembangan pesat yang dicapai Kerajaan Aceh tidak lepas dari letak kerajaannya yang strategis, yaitu di Pulau Sumatera bagian utara dan dekat jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu. Ramainya aktivitas pelayaran perdagangan melalui bandar – bandar perdagangan Kerajaan Aceh, mempengaruhi perkembangan kehidupan Kerajaan Aceh dalam segala bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya.

b.      Kehidupan Politik
         Berdasarkan Bustanus salatin ( 1637 M ) karangan Naruddin Ar-Raniri yang berisi silsilah sultan – sultan Aceh, dan berita – berita Eropa, Kerjaan Aceh telah berhasil membebaskan diri dari Kerajaan Pedir. Raja – raja yang pernah memerintah di Kerajaan Aceh :

1.       Sultan Ali Mughayat Syah
Adalah raja kerajaan Aceh yang pertama. Ia memerintah tahun 1514 – 1528 M. Di bawah kekuasaannya, Kerjaan Aceh melakukn perluasan ke beberapa daerah yang berada di daerah Daya dan Pasai. Bahkan melakukan serangan terhadap kedudukan bangsa Portugis di Malaka dan juga menyerang Kerajaan Aru.
        
2.       Sultan Salahuddin
Setelah Sultan Ali Mughayat Wafat, pemeintahan beralih kepada putranya yg bergelar Sultan Salahuddin. Ia memerintah tahun 1528 – 1537 M, selama menduduki tahta kerajaan ia tidak memperdulikan pemerintahaan kerajaannya. Keadaan kerajaan mulai goyah dan mengalami kemerosostan yg tajam. Oelh karena itu, Sultan Salahuddin digantiakan saudaranya yg bernama Alauddin Riayat Syah al-Kahar.
        
3.       Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar
Ia memerintah Aceh dari tahun 1537 – 1568 M. Ia melakukan berbagai bentuk perubahan dan perbaikan dalam segala bentuk pemeintahan Kerajaan Aceh.

Pada masa pemeintahannya, Kerajaan Aceh melakukan perluasaan wilayah kekuasaannya seperti melakukan serangan terhadap  Kerajaan Malaka ( tetapi gagal ). Daerah Kerajaan Aru berhasil diduduki. Pada masa pemerintahaannya, kerajaan Aceh mengalami masa suram. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan sering terjadi.

4.       Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607 – 16 36 M. Di bawah pemerintahannya, Kerjaan Aceh mengalami kejayaan. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerjaan besar adn berkuasa atas perdagangan Islam, bahakn menjadi bandar transito yg dapat menghubungkan dgn pedagang Islam di dunia barat.
Untuk mencapai kebesaran Kerajaan Ace, Sultan Iskandar Muda meneruskan perjuangan Aceh dgn menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaya. Tujuannya adalah menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah – daerah penghasil lada. Sultan Iskandar Muda juga menolak permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera bagian barat. Selain itu, kerajaan Aceh melakukan pendudukan terhadap daerah – daerah seperti Aru, pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri, sehingga di bawah pemerintahannya Kerajaan aceh memiliki wilayah yang sangat luas.
Pada masa kekeuasaannya, terdapat 2 orang ahli tasawwuf yg terkenal di Ace, yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as-Syamsi. Setelah Sultam iskandar Muda wafat tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Thani

5.       Sultan Iskandar Thani.
Ia memerinatah Aceh tahun 1636 – 1641 M. Dalam menjalankan pemerintahan, ia melanjutkan tradisi kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya, muncul seorang ulama besar yg bernama Nuruddin ar-Raniri. Ia menulis buku sejarah Aceh berjudul Bustanu’ssalatin.Sebagai ulama besar, Nuruddin ar-Raniri sangat di hormati oleh Sultan Iskandar Thani dan keluarganya serta oleh rakyat Aceh. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat, tahta kerjaan di pegang oleh permaisurinya ( putri Sultan Iskandar Thani ) dgn gelar Putri Sri Alam Permaisuri ( 1641-1675 M ).

6.   Sultan Sri Alam (1575-1576).
7.   Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
8.   Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9.   Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)

c.      Kehidupan Ekonomi
         Dalam kejayaannya, perekonomian Kerajaan Aceh bekembang pesat. Dearahnya yg subur banyak menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh atas daerah – daerah pantai timur dan barat Sumatera menambah jumlah ekspor ladanya. Penguasaan Aceh atas beberapa daerah di Semenanjung Malaka menyebabkan bertambahnya badan ekspor penting timah dan lada.
         Aceh dapat berkuasa atas Selat Malaka yg merupakan jalan dagang internasional. Selain bangsa Belanda dan Inggris, bangsa asing lainnya seperti Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina, Jepang, juga berdagang dgn Aceh. Barang – barang yg di ekspor Aceh seperti beras, lada ( dari Minagkabau ), rempah – rempah ( dari Maluku ). Bahan impornya seperti kain dari Koromendal 
( india ), porselin dan sutera ( dari Jepang dan Cina ), minyak wangi ( dari Eropa dan Timur Tengah ). Kapal – kapal Aceh aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai Laut Merah.

d.      Kehidupan Sosial
         Meningkatnya kekmakuran telah mneyebabkan berkembangnya sisitem feodalisme & ajaran agama Islam di Aceh. Kaum bangsawan yg memegang kekuasaan dalam pemerintahan sipil disebut golongan Teuku, sedabg kaum ulama yg memegang peranan penting dlm agama disebut golongan Teungku. Namun antara kedua golongan masyarakat itu sering terjadi persaingan yg kemudian melemahkan aceh. Sejak berkuasanya kerajaan Perlak ( abad ke-12 M s/d ke-13 M ) telah terjadi permusuhan antara aliran Syiah dgn Sunnah Wal Jamma’ah. Tetapi pd masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda aliran Syiah memperoleh perlindungan & berkembang sampai di daera – daerah kekuasaan Aceh.
         Aliran ini di ajarkan oleh Hamzah Fasnsuri yg di teruskan oleh muridnya yg bernama Syamsudin Pasai. Sesudah Sultan Iskandar Mud wafat, aliran Sunnah wal Jama’ah mengembangkan islam beraliran Sunnah wal Jama’ah, ia juga menulis buku sejarah Aceh yg berjudul Bustanussalatin ( taman raja – raja dan berisi adat – istiadat Aceh besrta ajarn agama Islam )

e.      Kehidupan Budaya
         Kejayaan yg dialami oleh kerajaan Aceh tsb tidak banyak diketahui dlm bidang kebudayaan. Walupun ada perkembangan dlm bidang kebudaaan, tetapi tdk sepesat perkembangan dalam ativitas perekonomian. Peninggalan kebuadayaan yg terlihat nyata adala Masjid Baiturrahman.
Penyebab Kemunduran Kerajaan Aceh

*    Setelah Sultan Iskandar Muda wafat tahun 1030, tdk ada raja – raja besar yg mampu mengendalikan daerah Aceh yg demikian luas. Di bawah Sultan Iskandar Thani ( 1637 – 1641 ), sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu mulai terasa & terlebih lagi setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.
*    Timbulnya pertikaian yg terus menerus di Aceh aantara golongan bangsawan ( teuku ) dgn golongan utama ( teungku ) yg mengakibatkan melemahnya Kerajaan Aceh. Antara golongan ulama sendiri prtikaian terjadi karena prbedaan aliran dlmm agama ( aliran Syi’ah dan Sunnah wal Jama’ah )
*    Daerah kekuasaannya banyak yg melepaskan diri seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau, dan Siak. Negara – negara itu menjadikan daerahnya sbg negara merdeka kembali, kadang – kadang di bantu bangsa  asing yg menginginkan keuntungan perdagangan yg lebuh besar.

Kerajaan Aceh yg berkuasa selama kurang lebih 4 abad, akhinya runtuh karena dikuasai oleh Belanda awal abad ke-20.

KERAJAAN MALAKA


A.    Letak Kerajaan
Kerajaan Malaka diperkirakan terletak di Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya. Pada masa kejayaannya, Kerajaan Malaka merupakan pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Asia Tenggara. Perkembangan Kerajaan Malaka di berbagai bidang dikarenakan oleh posisi dan letaknya yang strategis dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan pada masa itu. 
                   

B.Kehidupan politik
  1. Iskandar Syah .Iskandar Syah merupakanraja pertama Kerajaan Malaka. Berdasarkan sumber sejarah yang ada. Iskandar Syah awalnya adalah seorang penguasa dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri setelah Majapahit kalah dalam Perang Paregreg. Nama asli Iskandar Syah adalahParamisora. ia melarikan diri bersama pengikutnya ke Semanjung Malaya dan membangun kerajaan baru yang kemudian diberi nama Malaka.   Kerajaan Malaka merupakan kerajaan Islam kedua setelah kerajaan Samudra Pasai . Berkembangnya kegiatan perdagangan dan pelayaran di kerajaan Malaka banyak didukung para pedagang Islam dari Arab dan India. Kerajaan Malaka pun banyak mendapatkan pengaruh budaya Islam  dari kedua daerah ini. Namun Iskandar Syah sendiri merupakan nama Islam, yang diperoleh setelah ia memeluk agama islam. Pada periode kekuasaan Raja Iskandar Syah (1396-1414) , Kerajaan Malaka berkembang sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar yang disegani kerajaan lainya disekitarnya.
  2. Muhammad Iskandar Syah ( 1414- 1424 M ).  Ia Putra Iskandar Syah, Selama memerintah Malaka,Muhammad Iskandar Syah berhasil memajukan bidangperdagangan dan pelayaran . Ia juga berhasil menguasai jalur perdagangan di Kawasan Selat Malaka dengan taktik perkawinan putri raja Kerajaan Samudra Pasai dengan tujuan menundukkan Kerajaan Samudra Pasai secara Politis. Setelah mendapatkan kekuasaan politik Kerajaan Samudra Pasai . Ia menguasai wilayah perdagangan di sekitarnya.
  3. Sultan Muzafar Syah. (1424-1458) . Ia menggantikan Muhammad Iskandar Syah setelah menyingkirkan  dari tahta Kerajaan Malaka melalui sebuah kemelut politik . Setelah menguasai tahta kerajaan ,Muzafar Syah mempergunakan gelar Sultan yang merupakan gelar raja-raja dalam kerajaan Islam.    Sumber sejarah tentang Muzafar syah menyebutkan bahwa pada masa kekuasaannya, Kerajaan Malaka mendapatkan serangan dari Kerajaan Siam. namun ,serangan ini berhasil digagalkan oleh Kerajaan Malaka. Keberhasilan menghadapi serangan Kerajaan Malaka sebagai penguasa jalur pelayaran Selat Malaka. pada kurun pemerintahannya, Sultan Muzafar Syah juga berhasil memperluas daerah Kekuasaannya hinggga ke Pahang ,Indragiri dan Kampar.
  4. Sultan Mansyur Syah. (1458-1477). Setelah Sultan Muzafar Syah wafat, ia digantikan oleh putrannya  Sultan Mansyur Syah. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Malaka berhasil menguasai kerjaaan Siam sebagai bagian taktik memperluas wilayah kekuasaan dan mengukuhkan kebesarannya diantara kerajaan -kerajaan lain di sekitarnya.   Namun demikian, Sultan Mansyur Syah tidak menyerang Kerajaan Samudra Pasai yang merupakan kerajaan Islam. Hal ini  merupakan salah satu kebijakan politik Sultan Mansyur Syah untuk menjalin hubungan dengan kerjaan-kerajaan Islam yang ada disekitarnya. 
  5. Sultan Alaudin Syah( 1477-1488 M ).  Setelah Sultan Mansyur Syah wafat, ia digantikan oleh 
 
putranya bernama Sultan Alaudin Syah. Pada masa pemerintahannya perekonomian Kerajaan Malaka dalam kondisi cukup stabil. Arus perdagangan dan pelayaran di sekitar Pelabuhan Malaka masih cukup ramai. Sebagai pusat perdagangan di wilayah Asia tenggara, Kerajaan Malaka masih menduduki peran yang strategis.  Namun secara politis, selama masa pemerintahannya Sultan Alaudin Syah , Kerajaan malaka bisa dikatakan mengalami kemunduran. Banyak daerah taklukan Kerajaan Malaka yang melepaskan diri. Perang dan pembrontakan terjadi di banyak kerajaan dibawah kekuasaan Kerajaan Malaka
  1. Sultan Mahmud Syah .  Masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah,
 
Kerajaan Malaka mengalami kemunduran baik secara Politik maupun EkonomiSecara PolitikKekuasaan Kerajaan Malaka hanya tinggal mencakup wilayah utama Semenanjung Malaka. daerah daerah lain telah memisahkan diri dan menjadi kerajaan-kerajaan yang berdiri sendiri. Dalam kondisi yang makin lemah. Pada tahun 1511 M, armada perang Bangsa Portugis yang dipimpin oleh Afonsod'Albuquerque akhirnya berhasil menguasai dan menaklukkan Kerajaan Malaka. Secara Ekonomi , peranan Malaka selanjutnya diambil alih oleh kerajaan Banten yang memiliki pelabuhan di tepi selat Sunda. Aktivitas perdagangan dan pelayaran berpindah ke Banten  karena Armada Portugis telah menguasai wilayah Kerajaan Malaka dan mengenakan pajak yang tinggi bagi setiap kapal yang melalui selat Malaka.  Kehidupan ekonomi Kerajaan Malaka sangat bertumpu padaperdagangan dan pelayaran. Kedua sektor ini berkembang karena pesat karena didukung oleh letak karajaan Malaka yang strategis .yaitu tepat di Selat Malaka . Untuk mendukung aktifitas perdagangan dan pelayaran, dibangun pelabuhan Malaka yang menjadi pintu kapal-kapal dagang asing menuju ke wilayah Indonesia.   Kerajaan Malaka merupakan kerajaan maritim  yang mengandalkan pemasukan negara  dari sektor kelautan. Wilayah strategis struktur masyarakat yang kebanyakan bekerja sebagai padagang dan nelayan menyebabkan sosial kemasyarakatan sangat berpengaruh oleh pola hidup maritim.  Dalam pola hidup seperti ini, pedagang dan nelayan Kerajaan Malaka memiliki status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi dibanding petani
C.Awal munculnya kerajaan malaka
Pada awal abad ke-15 M,terjadi perang saudara di kerajaan majapahit.Dalam peperangan tersebut,seorang pangeran kerajaan majapahit yang bernama Paramisora diiringi para pengikutnya malarikan diri dari daerah Blambangan ke Turmasik (Singapura).
Daerah Turmasik dianggap kurang aman dan kurang sesuai untuk mendirikan kerajaan.Karena itu,Paramisora beserta pengikutya melanjutkan perjalanan ke arah utara sampai di Semanjung Malaya.
Di daerah itu,Paramisora membangun sebuah kampong bersama para pengikutnya dengan di bantu oleh para petani dan nelayan setempat.Perkampungan itu di beri nama Malaka.daerah perkampungan yang baru dibangun itu mengalami perkembangan yang cukup pesat karena letaknya yang strategis,yaitu di tepi jalur pelayaran dan perdagangan selat malaka.
Dalam dunia perdagangan,Malaka berkembang sebagai penghubung antara dunia barat dengan dunia timur .perkembangan yang sangat pesat itu mendorong Paramisora untuk membangun sebuah kerajaan yang bernama malaka dan ia pun langsung menjadi rajanya.
Aktivitas perdagangan di selat malaka pada waktu itu di dominasi oleh pedagang islam.Untuk itu, paramisora memutuskan untuk menganut agama islam.ia pun mengganti namanya menjadi Iskandar syah dan menjadikan kerajaan malak sebagai kerajaan islam.

D.Kehidupan Ekonomi

Sejak Kerajaan Malaka berkuasa, jalur perdagangan internasional yang melalui Selat Malaka semakin ramai. Bersamaan dengan melemahnya kekuatan Majapahit dan Samudera Pasai, kerajaan Malaka tidak memiliki persaingan dalam perdagangan. Tidak adanya saingan di wilayah tersebut, mendorong

kerajaan Malaka membuat aturan-aturan bagi kapal yang sedang melintasi dan berlabuh di Semenanjung Malaka. Aturan tersebut adalah diberlakukan pajak bea cukai untuk setiap barang yang datang dari wilayah barat (luar negeri) sebesar 6% dan upeti untuk pedagang yang berasal dari wilayah Timur (dalam negeri). Tingkat keorganisasian pelabuhan ditingkatkan dengan membuat peraturan tentang syarat-syarat kapal yang berlabuh, kewajiban melaporkan nama jabatan dan tanggungjawab bagi kapal-kapal yang sedang berlabuh, dan sebagainya.

Raja dan pejabat kerajaan turut serta dalam perdagangan dengan memiliki kapal dan awak-awaknya. Kapal tersebut disewakan kepada pedagang yang hendak menjual barangnya ke luar negeri. Selain peraturan-peraturan tentang perdagangan, kerajaan Malaka memberlakukan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam perdagangan dan diplomatik.

E.Kehidupan Sosial
Kahidupannya dipengaruhi oleh faktor letak, keadaan alam dan lingkungan wilayahnya. Sebagai masyarakat yang hidup dari dunia maritim, hubungan sosial masyarakatnya sangatlah kurang dan bahkan mereka cenderung mengarah ke sifat-sifat individ